Lotka Volterra di Laut Aceh?

         Pendekatan yang umum dilakukan untuk memodelkan interaksi tropic dipelopori, secara terpisah oleh ahli kimia fisika dari Amerika yang bernama Lotka (1925) dan ahli matematik dari Itali Volterra (1926). 

Kedua penulis ini menyatakan bahwa populasi konsumer dan sumberdaya dapat diperlakukan seperti interaksi partikel dalam gas atau cairan yang dicampur secara homogen, dan dibawah kondisi ini tingkat pertemuan antara konsumer dan resource (tingkat reaksi) akan proporsional terhadap produk dari masa mereka (hukum gerak massa). 

 

       Konsep Lotka-Volterra merupakan model sederhana untuk menganalisis dinamika populasi predator-prey (pemangsa-mangsa). Predator-prey system terjadi ketika satu organisme, mangsa, menjadi makanan bagi organisme lain, atau predator. Hubungan ini menguntungkan bagi populasi predator; misalnya predator memperoleh banyak makanan, mereka dapat berkembang biak lebih banyak. Model Lotka Voltera disebut juga sebagai model feddback : Populsi prey memberikan pengaruh secara positif terhadap ukuran populasi predator, sebaliknya populasi predator memberikan efek negatif terhadap prey.  Contoh klasik predator-prey system adalah rubah (predator) dan kelinci (prey). Jika kelinci tidak ada, maka populasi rubah akan menurun secara eksponensial, dan jika rubah tidak ada maka populasi kelinci juga akan tumbuh secara eksponensial.  Karena populasi rubah besar, maka populasi kelinci berkurang, dan kemudian rubah kekurangan makanan.  Kemudian populasi rubah juga akan berkurang, dan apa yang terjadi, populasi kelinci akan meningkat. Kemudian jumlah rubah akan meningkat lagi sedangkan kelinci akan menurun, dan begitu seterusnya.  Proses peningkatan dan penurunan ini menyebabkan variasi berkala dalam kedua populasi.  Formulasi sistem di atas dan kemampuannya untuk memprediksi apa yang diamati adalah  suatu sukses utama dalam bidang biologi matematika.

         Pada Tahun 1926, Volterra pertama menggunakan model ini untuk menjelaskan tingkat osilasi penangkapan ikan tertentu di Adriatic.  Ketika usai Perang Dunia II, masyarakat pesisir dan nelayan di Italia dengan kapal ukuran kecil menangkap ikan di sekitar pesisir secara besar-besaran dan tidak terkontrol, akibatnya terjadi tangkap lebih (biological overfishing) sumberdaya ikan pelagis kecil di perairan pesisir. Setelah beberapa waktu kemudian diketahui bahwa hasil tangkapan (yields) ikan pelagis besar menurun secara drastis, dan ternyata bahwa penurunan hasil tangkapan ikan pelagis besar tersebut ada hubungannya dengan berkurangnya populasi ikan pelagis kecil di sekitar pesisir, dimana ikan pelagis kecil merupakan makanan (prey) bagi ikan pelagis besar (predator).

          Belajar dari pengalaman apa yang terjadi di Italia sangat mungkin akan terjadi di Aceh, sebab beberapa fakta aktual berikut : (1) telah terjadi degradasi sumberdaya perikanan di Aceh, terutama di Pantai Timur Aceh, antara 26% – 27%. Laju degradasi ini meningkat seiring dengan meningkatnya effort dan produksi aktual, (2) pengadaan (supply) boat baru setelah tsunami dinilai sudah excess capacity, (3) sebagian besar hutan mangrove, yang merupakan tempat nursery, mencari makan, dan pembesaran ikan, telah rusak dan musnah.